Laman

بسم الله الرحمان الرحيم Ibnu Mas’ud tentang pengertian Al Jamaah : “Al Jamaah adalah sesuatu yang mencocoki Al Haq walaupun engkau sendiri (yang mengikutinya).” (Riwayat Al Laalikaiy dari Ibnu Mas’ud dalam Kitab As Sunnah dan Abu Syamah dalam Al Ba’its ‘Ala Inkari Bida’ Wal Hawaadits halaman 22 dan Ibnul Qayyim dalam Kitab Ighatsatul Lahfan halaman 1/70)
Tampilkan postingan dengan label tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tauhid. Tampilkan semua postingan

01 April 2011

Jalan Keselamatan

Penulis: Ustadz Muhammad Irfan

Ibnu Baththah menerangkan sebab bersatunya kalimat salaf : “Terus-menerus generasi pertama umat ini diatas (jalan) ini semua, (yakni) di atas persatuan hati dan kecocokan madzhab. Kitabullah (Al-Qur’an) sebagai penjaga mereka, sunnahnya Rasulullah sebagai imam mereka. Mereka tidak menggunakan pendapat-pendapat mereka dan tidak tergiur dengan hawa nafsu mereka. Maka terus-menerus manusia dalam keadaan demikian, hati-hati mereka terjaga dengan penjagaan Tuhan mereka, dan jiwa-jiwa mereka tertahan dari hawa nafsu dengan pertolongan Tuhannya.” (lihat Kitab Al-Ibanah 1/237).

Ketahuilah, semoga Allah merahmati kita, bahwanya jalan yang menjamin bagi kita untuk mendapatkan kenikmatan Islam itu hanya satu dan tidak banyak, karena Allah menetapkan kebahagian hanya bagi satu golongan saja. Allah Ta’ala berfirman : “Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (QS. Al- Mujadilah 22).

Dan Allah juga menetapkan kemenangan itu hanya bagi satu golongan, Allah menyatakan : “Dan barang siapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai walinya, maka sesungguhnya golongan Allah itulah yang pasti menang.” (QS. Al-Maidah 56).

Dan kapanpun kita cari dalam Al-Qur’an serta dalam Al-Hadits, tidak akan kita jumpai memecah belah umat kepada jama’ah-jama’ah dan kelompok-kelompok kecuali pasti di cela (oleh Al-Qur’an dan Al-Hadits tersebut,ed.).

Allah Ta’ala berfirman : “Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah–belah agama mereka, dan mereka menjadi beberapa golongan, tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Ruum 31-32).

Dan bagaimana Allah Azza Wa Jalla akan meridhoi umat-Nya untuk berpecah belah setelah Allah menjaganya dangan tali-Nya, dan Allah juga yang melepaskan nabi-Nya dari hal tersebut, dan mengingatkannya (dari bahaya perpecahan tersebut, ed.). Allah Ta’ala berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka berkelompok- kelompok, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah pada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat. “(QS. Al-An’am : 159).

Muawwiyah bin Abi Sufyan berkata : Bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berdiri di antara kami lalu menyatakan : “Sesungguhnya ahlul kitab sebelum kalian berpecah (menjadi) dua belas millah (golongan), dan umat ini akan berpecah (menjadi) tiga belas, dua belas di neraka dan satu di surga, yaitu Al-Jama’ah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud).

Berkata Al-‘Amir Ash-Shan’ani rahmatullah : “Penyebutan jumlah pada hadits ini bukanlah untuk menerangkan tentang banyaknya orang-orang yang binasa, hanya saja hal itu menerangkan tentang luasnya jalan-jalan kesesatan dan cabang-cabangnya, serta (menerangkan bahwa) jalan kebenaran itu hanya ada satu. Dan serupa dengan itu adalah apa yang di sebutkan oleh para ulama tafsir dalam firman Allah : “Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan(yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153).

Dan bahwasanya (Allah) menjamak (menggunakan lafadz As-Subul sebagai bentuk jamak / jumlah bilangan yang banyak, ed.) terhadap jalan –jalan yang di larang untuk mengikutinya, faedahnya adalah untuk menerangkan bercabangnya jalan-jalan kesesatan, banyak dan luasnya. Sedangkan Allah menunggalkan (menggunakan lafadz tunggal, ed.) terhadap jalan petunjuk dan kebenaran untuk (menerangkan) bahwa jalan kebenaran itu hanya satu dan tidak berbilang ( yakni tidak banyak dan bercabang-cabang jumlahnya, ed.).”

Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata : “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menggariskan satu garis (di atas tanah) pada kami lalu kami menyatakan : “Ini adalah jalan Allah “, kemudian beliau menggariskan beberapa garis di sebelah kanan dan kirinya, lalu menyatakan : “Ini adalah jalan-jalan ( As-Subul, maknanya beberapa jalan yang banyak, ed.) dan di atas setiap jalan ini ada setan yang mengajak kepadanya”. Lalu beliau membaca (Firman Allah) : “Dan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), Karena jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am : 153).

Hadits dia atas menunjukkan dengan tegas bahwa jalan kebenaran itu hanya satu. Al-Iman Ibnu Qayyim berkata : “…….Karena jalan yang menyampaikan kepada Allah itu hanya satu, apa-apa yang diutus dengannya para Rasul-Nya, serta di turunkan dengannya kitab-kitab-Nya, tidak seorangpun yang sampai kepada Allah kecuali dengan satu jalan ini, Seandainya manusia itu mendatangi setiap jalan dan minta di bukakan pada setiap pintu, maka jalan-jalan mereka di halangi, serta pintu-pintu itu tertutup, kecuali dari satu jalan ini, maka sesungguhnya jalan itulah yang menyampaikan kepada Allah”.

Dari ucapan Ibnu Qayyim di atas jelas bagi kita bahwa yang di maksud dengan jalan itu adalah rukun kedua dari rukun-rukun tauhid setelah syaadat Laa Ilaaha illallah yaitu syahadat wa asyahadu anna Muhammad rasulullah, dan hal itu juga termasuk rukun kedua dari syarat-syarat di terimanya amalan, karena amalan itu tidak akan di terima kecuali dengan dua syarat, yaitu ikhlas dan mengikuti contoh dari Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam.

Setelah jelas bagi kita bahwa jalan kebenaran itu hanya satu, maka tidak boleh bagi kita untuk menyatakan atau beranggapan bahwa jalan menuju Allah itu banyak sekali sejumlah nafas-nafas manusia, atau pertanyaan-pertanyaan yang lain yang sudah diketahui secara jelas dalam agama ini bahwasanya hal tersebut adalah salah. Dan agama ini datang untuk mempersatukan pemeluknya (dalam satu ikatan) dan tidak untuk memecahbelah. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala menyatakan : “Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah, dan janganlah kalian berpecahbelah, serta ingatlah atas ni’mat Allah kepada kalian, ketika kalian (dahulu) bermusuhan, lalu Allah persatukan hati-hati kalian, menjadilah kalian dengan ni’mat Allah tersebut bersaudara.” (QS. Ali-Imran : 103).

Dan yang di maksud dengan hablullah (tali Allah) adalah Kitabullah (Al-Qur’an), sebagaimana dinyatakan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu : “Sesungguhnya jalan ini di hadiri oleh para setan yang menyeru : “Wahai hamba Allah, ayo kesini ! Ini adalah jalan (yang lurus)”, untuk menghalangi mereka dari jalan Allah. Maka berpegang teguhlah dengan tali Allah, karena sesungguhnya tali Allah itu adalah Kitabullah”.

Dari atsar diatas dapat kita anbil dua faedah :

Pertama : Bahwa jalan (yang lurus) itu hanya satu, dan setan berupaya untuk memecah belah manusia di sekitar jalan tersebut. Maka tidak ada cara yang paling baik untuk memecah belah manusia dengan ajaran bahwa jalan kebenaran itu banyak. Maka barang siapa yang melempar keragu-raguan kepada manusia dengan pertanyaan bahwa kebenaran itu tidak terbatas pada satu jalan saja, maka dia adalah setan. Dan Allah menyatakan : “Maka tidak ada setelah kebenaran itu kecuali adalah kesesatan.” (QS. Yunus : 32).

Kedua : Bahwa tali Allah yang di tafsirkan dengan Kitabullah yang wajib atas kaum muslimin untuk berpegang teguh dengannya dan bersatu di atasnya tidak bertentangan dengan ucapan Ibnu Mas’ud : “Shirothol mustaqim adalah apa yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan kami di atasnya. “(Atsar riwayat Imam At-Thabrani).
Hal tersebut di karenakan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam meninggalkan bagi mereka Al- Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah, sebagaimana yang beliau nyatakan : “Aku tinggalkan pada kalian apa-apa yang jika kalian berpegang teguh dengannya niscaya kalian tidak akan sesat setelahku selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan sunnahku.” (HR. Imam Malik dalam Al- Muwatho’).

Dan sunnahnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam itu juga termasuk wahyu, dan juga sebagai tafsir dari Al-Qur’an, bahwa sebaik-baiknya makhluk dan menafsirkan Al-Qur’an adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan : “Dan Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikir untuk menjelaskan kepada manusia apa-apa yang Kami turunkan kepada mereka.” (QS. An-Najm : 3-4).

Rasulullah Shallallahu aliahi wa sallam menyatakan : “Ketahuilah, sesungguhnya diturunkan kepadaku Al-Qur’an dan yang semisalnya bersama Al-Qur’an itu. “ (Shahihul Musnad).
Hasan bin Athiyyah menyatakan : “Sesungguhnya Jibril menurunkan sunnah kepada Muhammad Shollalahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dia menurunkan Al-Qur’an.”

Oleh karena Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan umatnya jika terjadi perpecahan untuk berpegang dalam sunnah beliau Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyatakan : “Sesungguhnya barang siapa diantara kalian yang hidup sesudahku, niscaya akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian (untuk berpegang teguh) dengan sunnahku dan sunnahnya khulafaur rasyidin al-mahdiyyin. Berpegang teguhlah kalian dengannya, dan gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham. Dan berhati-hatilah kalian dengan perkara-perkara yang diada-adakan adalah bi’dah.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Ibnu Baththah menerangkan sebab bersatunya kalimat salaf : “Terus-menerus generasi pertama umat ini diatas (jalan) ini semua, (yakni) di atas persatuan hati dan kecocokan madzhab. Kitabullah (Al-Qur’an) sebagai penjaga mereka, sunnahnya Rasulullah sebagai imam mereka. Mereka tidak menggunakan pendapat-pendapat mereka dan tidak tergiur dengan hawa nafsu mereka. Maka terus-menerus manusia dalam keadaan demikian, hati-hati mereka terjaga dengan penjagaan Tuhan mereka, dan jiwa-jiwa mereka tertahan dari hawa nafsu dengan pertolongan Tuhannya.” (lihat Kitab Al-Ibanah 1/237).

Wallahu a’lam bish shawab

Sumber : BULETIN DAKWAH AT-TASHFIYYAH, Surabaya Edisi : 05/ Dzulqo’dah/ 1424
READ MORE - Jalan Keselamatan

Dia… di atas Langit

Penulis: Al Ustadz Abu Hamzah al Atsari

Amat mengherankan perkaranya ketika dimunculkan satu pertanyaan i’tiqodiyah, “Di mana Allah?”, kita mendapatkan jawaban yang bermacam-macam dan berbeda-beda dari mulut-mulut kaum muslimin. Ada yang beranggapan bahwa tidak boleh mempertanyakan di mana Allah, tetapi tak sedikit pula yang menjawab, “Allah ada di mana-mana”, lebih ironisnya ada yang mengatakan, “Allah tidak di atas, tidak juga di bawah, tidak di sebelah kanan tidak pula di sebelah kiri, tidak di barat tidak di timur, tidak di selatan tidak juga di utara.”

Para pembaca, sungguh sangat memprihatinkan bila seorang muslim atau banyak muslim tidak mengetahui masalah pokok dalam agamanya ini, tapi apa hendak dikata bila memang realita yang ada menunjukkan demikian, satu fenomena yang cukup mu`sif (menyedihkan) menimpa ummat ini yang dilatarbelakangi dengan jauhnya dari pendidikan ilmu agama yang benar, sementara Allah telah berfirman, “Allah menganugrahkan al hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al Qur`an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah itu ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang- orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.” (QS Al Baqoroh: 269). “Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS Az Zumar: 9).
Bagaimana tidak dikatakan hal yang pokok dalam agama, pengetahuan tentang “di mana Allah?” tatkala ternyata Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikannya sebagai dalil akan kebenaran iman seseorang. Di dalam Shohih Muslim, dan Sunan Abi Daud, Sunan An Nasa`i, dan lainnya dari sahabat Mu’awiyah bin Hakam as Sulami, ia berkata: Aku punya seorang budak yang biasa menggembalakan kambingku ke arah Uhud dan sekitarnya, pada suatu hari aku mengontrolnya, tiba-tiba seekor serigala telah memangsa salah satu darinya -sedang aku ini seorang laki-laki keturunan Adam yang juga sama merasakan kesedihan- maka akupun amat menyayangkannya hingga kemudian akupun menamparnya (menampar budaknya, pent.), lalu aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kuceritakan kejadian itu padanya. Beliau membesarkan hal itu padaku, aku pun bertanya, “Wahai Rosulullah apakah aku harus memerdekakannya?” Beliau menjawab, “Panggil dia kemari!” Aku segera memanggilnya, lalu beliau bertanya padanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.” “Siapa aku?” tanya Rosul. “Engkau Rosulullah (utusan Allah)” ujarnya. Kemudian Rosulullah berkata padaku, “Merdekakan dia, sesungguhnya dia seorang mu`min.”
Di dalam hadits ini terkandung tiga pelajaran yang sangat signifikan. Pertama: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan keimanan sang budak ketika ia mengetahui bahwa Allah di atas langit. Kedua: Disyari’atkannya ucapan seorang muslim yang bertanya “Di mana Allah?”. Ketiga: Disyari’atkannya bagi orang yang ditanya hal itu agar menjawab, “Di atas langit.” Sulaiman at Taimi, salah seorang tabi’in mengatakan, “Bila aku ditanya di mana Allah? Aku pasti akan menjawab di atas langit.”
Para pembaca, apa jadinya jika ternyata sebagian kaum yang taunya sebatas “air barokah” dan orang-orang yang spesialisasinya hanya itu kemudian apriori untuk menolak bahkan lebih dari itu mengkafirkan orang yang mempertanyakan “Di mana Allah?” Ketahuilah bahwa siapa saja yang mengingkari permasalahan ini berarti ia telah mengingkari Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, wal ‘iyadzubillah bila kemudian mengkafirkannya. Jawaban seorang budak dalam hadits di atas sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit, bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu… Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu.” (QS Al Mulk: 16-17). Tidaklah mengherankan bila kemudian penetapan bahwa Dzat Allah di atas langit menjadi keyakinan para imam yang empat, imam Abu Hanifah -seorang alim dari negeri Iraq- berkata, “Barangsiapa yang mengingkari Allah ‘azza wa jalla di langit maka ia telah kufur!” Imam Malik -imam Darul Hijroh- mengatakan, “Allah di atas langit, sedang ilmuNya (pengetahuanNya) di setiap tempat, tidak akan luput sesuatu darinya.” Muhammad bin Idris yang lebih dikenal dengan sebutan Imam asy Syafi’i berkata, “Berbicara tentang sunnah yang menjadi peganganku dan para ahli hadits yang saya lihat dan ambil ilmunya seperti Sufyan, Malik, dan selain keduanya, adalah berikrar bahwa tidak ada ilah (yang berhak untuk diibadahi secara benar) kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, serta bersaksi bahwa Allah itu di atas ‘arsy di langit…” Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal, “Apakah Allah di atas langit yang ke tujuh di atas ‘arsyNya jauh dari makhlukNya, sedangkan kekuasaanNya dan pengetahuanNya di setiap tempat?” Beliau menjawab, “Ya, Dia di atas ‘arsyNya tidak akan luput sesuatupun darinya.” (Lihat kitab Al ‘Uluw, Imam adz Dzahabi).
Aqidah yang agung ini telah tertanam dalam dada-dada kaum muslimin periode pertama, para salafus sholih ahlussunnah wal jama’ah. Berkata Imam Qutaibah bin Sa’id -wafat pada tahun 240 H-, “Ini adalah pendapat / ucapan para imam-imam Islam, sunnah, dan jama’ah, bahwa kita mengenal Rabb kita di atas langit yang ke tujuh di atas ‘arsyNya.” Sehingga semakin jelaslah bahwa Allah di atas langit sebagai ijma ahlissunnah wal jama’ah yang berlandaskan Kitab, Sunnah, akal, dan fitrah. Allah berfirman, “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi.” (QS As Sajdah: 5). “KepadaNyalah naik perkataan yang baik dan amal sholeh yang dinaikkanNya.” (QS Fathir: 10). “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhannya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.” (QS Al Ma’arij: 4). “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit…” (QS Al Mulk: 16-17). “Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tinggi.” (QS Al A’laa: 1). Dan ayat-ayat lainnya teramat banyak untuk disebutkan sampai-sampai sebagian besar kalangan Syafi’i mengatakan, “Di dalam Al Qur`an terdapat seribu dalil atau bahkan lebih menunjukkan bahwa Allah ta’ala tinggi di atas makhlukNya.” (Majmu’ul Fatawa: 5/226). Di dalam Shohih Bukhori dan Muslim dari sahabat Abu Bakroh radhiyallahu ‘anhu bahwa ketika Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan manusia pada hari Arafah, beliau berkata, “Ya Allah, saksikanlah” (seraya mengangkat jari telunjuknya ke arah langit). Semua orang yang berakal akan menetapkan bahwa ketinggian adalah sifat sempurna sedangkan kebalikannya adalah sifat kekurangan, sementara Allah ‘azza wa jalla tersucikan dari hal-hal yang bersifat kekurangan, ini semua menunjukkan bahwa Dzat Allah di atas langit adalah suatu kesempurnaan bagiNya. Demikian pula secara fitroh, semua kaum muslimin di belahan dunia apabila berdo’a mengangkat kedua tangannya ke langit, tak didapatkan seorang pun dari mereka apabila mengatakan, “Ya Allah, ampunilah dosaku” mengarahkan kedua tangannya ke tanah -selama- lamanya!!- menunjukkan secara fitrah, semua manusia menetapkan bahwa Dzat Allah di atas langit.
Para pembaca, perjalanan waktu yang cukup lama aqidah Islam ini tak lagi dikenal dan diketahui mayoritas umat Islam, seakan-akan sirna dari sumbernya, malah sebaliknya faham-faham Jahmiyah, Asy’ariyah, Mu’tazilah, dan ahli kalam yang merajalela bak wabah penyakit yang menular. Kalangan anak-anak, remaja, dan para orang tua, bahkan sang ustadz atau kyai dan guru ngaji bila ditanya, “Di mana Allah?” serempak menjawab, “Allah ada di mana-mana.” Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Sebagian yang dinisbatkan kepada ilmu berdalil atas pernyataannya itu dengan firman Allah, “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS Al Hadid: 4). Memang menjadi ciri khas ahli bathil adalah “seenaknya mengambil dalil tetapi buruk ketika berdalil”. Ketahuilah bahwa ayat itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa Allah ada di mana- mana, sebab bila difahami demikian, maka tentu ketika seseorang berada di masjid Allah ada di situ, ketika di pasar Allah juga ada di situ, bahkan tatkala seseorang berada di tempat kotor sekalipun, seperti WC, maka Allah pun ada di situ! Maha tinggi Allah atas pernyataan-pernyataan ini. Tetapi maksud dari ayat itu “Dia bersama kamu…” ialah ilmuNya, pengawasanNya, penjagaanNya bersama kamu, sedang Dzat Allah di atas arsy di langit. (Lihat Tafsir Qur`anil Azhim: 4/317). Imam Sufyan ats Tsaury -wafat pada tahun 161 H- pernah ditanya tentang ayat ini “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” Beliau menjawab, “yakni ilmuNya.” Hanbal bin Ishaq berkata: Abu Abdillah (Imam Ahmad, pent.) ditanya apa makna “Dan Dia bersama kamu”? Beliau menjawab, “Yakni ilmuNya, ilmuNya meliputi segala hal sedangkan Rabb kita di atas arsy…” Imam Nu’aim bin Hammad -wafat pada tahun 228 H- ditanya tentang firman Allah “Dan Dia bersama kamu” beliau berkata, “Maknanya tidak ada sesuatupun yang luput darinya, dengan ilmunya.” (lihat Al ‘Uluw, Imam adz Dzahabi). Ketika Imam Abu Hanifah mengatakan, “Allah subhanahu wa ta’ala di langit tidak di bumi”, ada yang bertanya, “Tahukah Anda bahwa Allah berfirman, ‘Dia (Allah) bersama kamu’?” Beliau menjawab, “Ungkapan itu seperti kamu menulis surat kepada seseorang “saya akan selalu bersama kamu” padahal kamu jauh darinya. (I’tiqodul a`immah al arba’ah).
Para pembaca -semoga dirahmati Allah- sudah saatnya kita tanamkan kembali aqidah yang murni warisan Nabi dan para salafus sholih ini di dalam jiwa-jiwa generasi Islam kini dan mendatang. Sungguh keindahan, ketentraman mewarnai anak-anak kita dan para orang tua saat kita tanyai “Di mana Allah?” lalu mereka mengarahkan jari telunjuknya ke atas dan berucap, “Allah di langit.” Wallahul haadi ila sabilir rosyaad. Wal ilmu indallah.

(Buletin Dakwah Al Wala’ Wal Bara’)
READ MORE - Dia… di atas Langit

Islam Itu Agama Tauhid


Penulis: BULETIN DAKWAH AT-TASHFIYYAH, Surabaya EDISI PERDANA

Allah membuka pintu-pintu ilmu bagi hamba-hamba-Nya dengan diutusnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu pintu ibadah kepada Allah serta pintu-pintu ilmu dalam mencari rizki di muka bumi ini dari sisi yang halal. Maka tidak ada sesuatupun yang di butuhkan manusia untuk mengetahui urusan dunia dan dalam agama kecuali Allah sudah jelaskan semua kepada manusia, sehingga menjadilah mereka di atas jalan yang putih bersih, malamnya seperti siangnya, dan tidaklah seseorang itu melenceng darinya kecuali pasti binasa.

Wahai manusia, bertakwalah kalian kepada Allah, dan bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat yang di berikan kepada kalian, yaitu dengan diutusnya seorang Rasul kepada kalian, yang mana Rasul tersebut membacakan ayat-ayat Allah kepada kalian, serta mensucikan kalian, mengajari kalian Al-Qur’an dan Al-Hikmah ( As-sunnah ).

Dengan Rasul tersebut Allah mengeluarkan kalian dari kegelapan kesyirikan dan kekufuran menuju ke cahaya keadilan dan kebaikan, serta dari kegelapan kesedihan hati dan sempitnya dada menuju kepada cahaya ketenangan dan lapang dada.

Allah Ta’aala berfirman :
“ Maka apakah orang-orang yang di bukakan Allah hatinya untuk ( menerima ) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhan-Nya ( sama dengan orang yang membantu hatinya ) ? “ ( QS. Az- Zumar : 22 ).

Allah juga berfirman :
Alif lam raa. ( ini adalah ) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengerluarkan manusia dari gelap gulita menuju cahaya yang terang benderang dengan izin Tuhan mereka, ( yaitu ) menuju jalan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Allahlah yang memiliki segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih. “( QS. Ibrahim : 1-2 ).

Allah mengutus nabi-nya Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan manusia berada dalam kebodohan, lalu beliau membuka pintu-pintu ilmu dalam mengenal Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat serta perbuatan-Nya. Dam juga pintu-pintu ilmu untuk mengenal makhluk-Nya yaitu permulaan dan akhir dari penciptaan manusia, serta hisab dan pembalasan ( di hari kiamat ).

Allah Ta’aala berfirman : “Dan sesungguhnya kami menciptakan manusia dari suatu sari pati ( berasal ) dari tanah. Kemudian Kami jadikan sari pati itu menjadi air mani ( yang tersimpan ) dalam tempat yang kokoh ( yaitu rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, dan segumpal darah itu Kami jadikan dia makhluk yang ( berbentuk ) lain. Maka Maha Suci Allah, penciptaan yang paling baik. Kemudian sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan ( dari kuburmu ) di hari kiamat. “(QS. Al-Mu’minum:12-16 ).

Allah membuka pintu-pintu ilmu bagi hamba-hamba-Nya dengan diutusnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu pintu ibadah kepada Allah serta pintu-pintu ilmu dalam mencari rizki di muka bumi ini dari sisi yang halal. Maka tidak ada sesuatupun yang di butuhkan manusia untuk mengetahui urusan dunia dan dalam agama kecuali Allah sudah jelaskan semua kepada manusia, sehingga menjadilah mereka di atas jalan yang putih bersih, malamnya seperti siangnya, dan tidaklah seseorang itu melenceng darinya kecuali pasti binasa.

Allah Ta’ala mengutus Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam ketika manusia bergelimang dengan berbagai macam kesyirikan. Diantara mereka ada yang menyembah berhala, ada juga yang menyembah Al-Masih ibnu Maryam ( Nabi Isa ‘alaihissalam ) dan ada yang menyembah pepohonan dan batu-batuan. Kemudian Allah menyelamatkan mereka dari kebodohan ini, yaitu dari beribadah kepada berhala-berhala untuk beribadah kepada Allah, mentauhidkan-Nya, mengiklaskan ibadah hanya untuk Allah saja serta menunjukkan kecintaan dan pengagungan kepada-Nya saja. Mka jadilah hamba tersebut ikhlas dalam niatnya, ikhlas dalam mencintainya serta ikhlas dalam mengagungkannya, baik lahir maupun batin.

Allah Ta’ala berfirman :
“Katakanlah, sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah semesta alam”. ( QS. Al-An’am : 162 ).
Dalam firman-Nya yang lain : “ Maka Tuhanmu adalah Tuhan yang Esa, kaerena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. “ ( QS.Al-Hajj :34 ).

Demikanlah, Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam datang utntuk merealisasikan tauhid dan mensucikannya, ( yakni ) mensucikannya dari setiap kotoran-kotoran dan menutup segala pintu yang dapat mengantarkan kepada kerusakan tauhid itu atau melemahkannya. Sampai-sampai, ketika ada seseorang yang berkata kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam : “Atas kehendak Allah dan kehendak anda.” Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan : “Apakah kamu hendak menjadikan aku sebagai tandingan bagi Allah ? Tetapi hendaknya km katakan : “Atas kehendak Allah saja.” ( Hadits Hasan Riwayat Imam Ahmad ).

Dalam hadits ini Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menngingkari laki-laki tersebut yang menggabungkan masyi’ah ( kehendak ) Allah dan huruf yang menghendaki penyamaan antara keduanya ( yakni faedah wawu athof yang berarti dan yang memberi faedah bahwa kata yang di gabungkan itu memiliki nilai derajat atau kedudukan yang sama, ed ), dan menjadikan hal tersebut termasuk mengadakan tandingan ( sekutu )bagi Allah, dan menjadikan tandingan bagi Allah itu adalah menyekutukan-Nya ( berbuat syirik ).

Demikian pula Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengharamkan seseorang bersumpah dengan selain Allah dan menjadikan perbuatan tersebut termasuk ke syirikan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda : “ Barang siapa bersumpah dengan selain Allah, maka dia telah kufur atau syirik. “( hadits Shohib Riwayat Imam At-Tirmidzi ).Yang demikian itu karena bersumpah dengan selain Allah berarti mengagungkan yang sesuai dengannya. Maka tidak boleh bagi seorang muslim mengatakan ketika bersumpah “ demi nabi “ atau “ demi kehidupan nabi “ atau juga “ demi kehidupan fulan “, akan tetapi hendaknya bersumpah denngan Allah saja atau diam.

Demikian pula ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam di tanya tentang seorang yang bertemu dengan saudaranya lalu mengucapkan salam padanya, apakah boleh membungkuk kepadanya ( ketika memberi salam ) ? Maka beliau menjawab : “Tidak “. ( HR.At-Tirmidzi ). Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang memberi salam sambil membungkuk karena hal tersebut termasuk khudhu’ ( tunduk atau merendah ) yang tidak boleh dilakukan kecuali kepada Allah saja, Dialah satu-satunya yang berhak di sujudi dan di ruku’i. Dan sujud ketika memberikan salam di perbolehkan hanya pada syari’at sebelum kita. Akan tetapi syari’at ( Islam ) ini adalah syari’at yang sempurna, syari’atnya Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya dan mengharamkan kecuali untuk Allah saja.

Dan di dalam sebuah hadits di kisahkan bahwa Mu’adz bin jabal datang ke syam dan menjumpai mereka ( penduduk syam ) bersujud ( yakni membungkuk ketika salam,ed ) kepada pemimpin- pemimpin mereka, dan hal itu terjadi sebelum mereka masuk Islam. Tatkala Mu’adz dari syam ( yakni ketika sampai di madinah, ed ), dia sujud kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “ Apa ini wahai Mu’adz ? “ Lalu Mu’adz berkata : “Aku melihat mereka ( penduduk Syam ) sujud kepada pemimpin-pemimpin mereka, Anda lebih pantas untuk disujudi ( daripada pemimpin-pemimpin mereka ) “. Lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Seandainya aku ( dibolehkan ) memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku akan perintahkan perempuan ( yakni para istri )untuk sujud kepada suaminya. “( HR.Ibnu Majah ).
Hal tersebut di kaerenakan besarnya hak suami terhadap istrinya.

Imam An-Nasa’I meriwayatkan dengan sanad yang jayyid ( bagus ) dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, bahwasanya sekelompok manusia datang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata : “ Wahai rasulullah, wahai orang yang terbaik dan anaknya yang terbaik, wahai tuan kami dan anaknya tuan kami.” Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Wahai manusia, ucapkanlah dengan ucapan kalian, dan janganlah syetan menggoda kalian. Aku adalah Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak senang kalian mengangkat aku di atas kedudukanku yang telah Allah tentukan bagiku.”

Dan di antara upaya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk menutup jalan-jalan kesyirikan adalah tidak membiarkan di dalam rumah gambar-gambar yang di sembah selain Allah atau yang di agungkan untuk di ibadahi. Dalam Shahih Bukhori dari ‘Aisyah radhiyallahu anha, beliau berkata : “Tidaklah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan dalam rumahnya sesuatu yang di dalamnya ada salib kecuali menghancurkannya.”

Salib adalah tanda yang digunakan oleh orang-orang Nashoro sebagai syiar agama mereka dan di sembah-sembah. Dan definisi salib sebagaimana terdapat dalam kanus Al-Munjid adalah semua yang berbentuk dua garis yang saling memotong dan maknanya adalah garis lurus ( vertical ) yang di potong oleh garis yang kesamping ( horizontal ), sama yang di potong itu di tengah atau di atas.
Orang-orang Nashoro menyangka bahwa Al-Masih bin Maryam itu disalib setelah dia di bunuh, maka Allah membantah anggapan tersebut dalam firmannya : “Tidaklah mereka membunuhnya dan tidak pula mereka menyalibnya, akan tetapi ( yang mereka bunuh adalah ) yang diserupakan dengan Isa bagi mereka.” ( QS.An-Nisa : 157-158 ).

Orang-orang Nashoro mengagungkan salib, mereka meletakkannya di mihrab-mihrab mereka dan menggantungkannya di leher-leher mereka. Padahal termasuk dari petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah menghilangkan apa saja yang ada salibnya dalam rangka menjaga tauhid dan menjauhi penyerupaan kepada selain muslimin. Karena musuh-musuh islam dalam rangka menghancurkan Islam, mereka menyerang kaum muslimin, baik anak-anak maupun orang dewasa ( bahkan musik dan lagu-lagu rohani orang-orang Nashoro juga memenuhi perabot perabot rumah tangga dan mainan anak-anak,ed ) Laa haula walaa quwwata illa billahi, inna lillahi wainna ilaihi raji’un.

Semoga Allah menjaga Agama kita serta menghidupkan hati kita yang telah lalai. Amin Ya Robbal ‘Alami.


Maraji’ : Majmu Fatawa Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin jilid VI, diterjemahkan oleh Ustadz Muhammad Irfan.
READ MORE - Islam Itu Agama Tauhid

Kunci Surga

Penulis: Al-Ustadz Agus Su’aidi As-Sidawy

Ibarat sebuah pintu, surga menbutuhkan sebuah kunci untuk membuka pintu-pintunya. Namun, tahukah Anda apa kunci surga itu ? Bagi yang merindukan surga, tentu akan berusaha mencari kuncinya walaupun harus mengorbankan nyawa.

Tetapi anda tak perlu gelisah, Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan pada umatnya apa kunci surga itu, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits yang mulia, beliau bersabda (yang artinya): “Barang siapa mengucapkan kalimat Laa ilaaha illalloh dengan penuh keikhlasan, maka dia akan masuk surga. “
(HR. Imam Ahmad dengan sanad yang shohih).

Ternyata, kunci surga itu adalah Laa ilaahaa illalloh, kalimat Tauhid yang begitu sering kita ucapkan. Namun semudah itukah pintu surga kita buka ? Bukankah banyak orang yang siang malam mengucapkan kalimat Laa ilaaha illalloh, tetapi mereka masih meminta-minta (berdo’a dan beribadah) kepada selain Allah, percaya kepada dukun-dukun dan melakukan perbuatan syirik lainnya ? Akankah mereka ini juga bisa membuka pintu surga ? Tidak mungkin !

Dan ketahuilah, yang namanya kunci pasti bergerigi. Begitu pula kunci surga yang berupa Laa ilaaha illalloh itu, ia pun memiliki gerigi. Jadi, pintu surga itu hanya bisa dibuka oleh orang yang memiliki kunci yang bergerigi.

Al-Iman Al-Bukhori meriwayatkan dalam Shohih-nya (3/109), bahwa seseorang pernah bertanya kepada Al-Imam Wahab bin Munabbih (seorang Tabi’in terpercaya dari Shon’a yang hidup pada tahun 34-110 H) : “Bukankah Laa ilaaha illalloh itu kunci surga ? “Wahab menjawab : “Benar, akan tetapi setiap kunci yang bergerigi. Jika engkau membawa kunci yang bergerigi, maka pintu surga itu akan di bukakan untukmu !”.

Lalu, apa gerangan gerigi kunci itu Laa ilaaha illalloh itu ? Ketahuilah, gerigi kunci Laa ilaaha illalloh itu adalah syarat-syarat Laa ilaaha illalloh ! Syaikh Abdurrahman bin Muhammad bin Qoshim Al-Hambali An-Najdi rahimahullah, penyusun kitab Hasyiyyah Tsalatsatil Ushul, pada halaman 52 kitab tersebut menyatakan, syarat-syarat Laa ilaaha illalloh itu ada delapan, yaitu :

Pertama : Al-‘Ilmu (mengetahui), maksudnya adalah Anda harus mengetahui arti (makna) Laa ilaaha illalloh secara benar. Adapun artinya adalah : “Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah”. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):
“Barang siapa mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, niscaya dia akan masuk surga.”
(HR. Muslim).
Seandainya Anda mengucapkan kalimat tersebut, tetapi anda tidak mengerti maknanya, maka ucapan atau persaksian tersebut tidak sah dan tidak ada faedahnya.

Kedua : Al-Yaqiinu (meyakini), maksudnya adalah anda harus menyakini secara pasti kebenaran kalimat Laa ilaaha illalloh tanpa ragu dan tanpa bimbang sedikitpun. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak di sembah kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba bertemu dengan Allah sambil membawa dua kalimat syhadat tersebut tanpa ragu kecuali pasti dia akan masuk surga.
(HR. Muslim).

Ketiga : Al-Qobulu (manerima), maksudnya Anda harus menerima segala tuntunan Laa ilaaha illalloh dengan senang hati, lisan dan perbuatan, tanpa menolak sedikitpun. Anda tidak boleh seperti orang-orang musyirik yang di gambarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an (yang artinya):
“Orang-orang yang musyrik itu apabila di katakan kepada mereka : (ucapkanlah) Laa ilaaha illalloh, mereka menyombongkan diri seraya berkata : Apakah kita harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kita hanya karena ucapan penyair yang gila ini ? “
(QS. As-Shoffat : 35-36).

Keempat : Al-Inqiyaadu (tunduk atau patuh), maksudnya Anda harus tunduk dan patuh melaksanakan tuntunan Laa ilaaha illalloh dalam amal-amal nyata. Allah subhanahu wa Ta’ala (yang artinya):
“Kembalilah ke jalan Tuhanmua, dan tunduklah kepada-Nya. “
(QS. Az-Zumar : 54).
Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya):
“Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul (ikatan) tali yang amat kokoh (yakni kalimat Laa ilaaha illalloh). “(QS. Luqman : 22).
Makna “menyerahkan dirinya kepada Allah” yaitu tunduk, patuh dan pasrah kepada-Nya (ed.).

Kelima : Ash-Shidqu (jujur atau benar), maksudnya Anda harus jujur dalam melaksanakan tuntutan Laa ilaaha illalloh, yakni sesuai antara keyakinan hati dan amal nyata, tanpa di sertai kebohongan sedikitpun. Nabi Sholallahu ‘alahi wa sallam bersabda (yang artinya) :
“Tidaklah seseorang itu bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak di sembah kecuali Allah dan Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya, dia mengucapkannya dengan jujur dari lubuk hatinya, melainkan pasti Allah mengharamkan neraka atasnya. “
(HR. Imam Bukhori dan Muslim).

Keenam : Al-Ikhlas (ikhlas atau murni), maksudnya Anda harus membersihkan amalan Anda dari noda-noda riya’ (amalan ingin di lihat dan dipuji oleh orang lain), dan berbagai amalan kesyirikan lainnya. Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan Laa ilaaha illalloh semata-mata hanya untuk mengharapkan wajah Allah Azza wa Jalla. “(HR. Imam Bukhori dan Muslim).

Ketujuh : Al-Mahabbah (mencintai), maksudnya anda harus mencintai kalimat tauhid, tuntunannya, dan mencintai juga kepada orang-orang yang bertauhid dengan sepenuh hati, serta membenci segala perkara yang merusak tauhid itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan di antara manusia ada yang menbuat tandingan-tandingan (sekutu) selain Allah yang di cintai layaknya mencintai Allah. Sedangkan orang-orang yang beriman, sangat mencintai Allah diatas segala-galanya). “
(QS. Al-Baqarah : 165). Dari sini kita tahu, Ahlut Tauhid mencintai Allah dengan cinta yang tulus bersih. Sedangkan Ahlus Syirik mencintai Allah dan mencintai tuhan-tuhan yang lainnya. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan isi kandungan Laa ilaaha illalloh.(ed,).

Kedelapan : Al-Kufru bimaa siwaahu (mengingkari sesembahan yang lainnya), maksudnya Anda harus mengingkari segala sesembahan selain Allah, yakni tidak mempercayainya dan tidak menyembahnya, dan juga Anda harus yakin bahwa seluruh sesembahan selain Allah itu batil dan tidak pantas disembah-sembah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan (yang artinya): “Maka barang siapa mengingkari thoghut (sesembahan selain Allah) dan hanya beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang teguh pada ikatan tali yang amat kokoh (yakni kalimat Laa ilaaha illalloh), yang tidak akan putus….”(QS. Al-Baqoroh : 256).

Saudaraku kaum muslimin dari sini dapatlah anda ketahui, bahwa orang yang mengucapkan kalimat Laa ilaaha illalloh hanya dengan lisannya tanpa memenuhi syarat-syaratnya, dia bagaikan orang yang memegang kunci tak bergerigi, sehingga mustahil baginya untuk membuka pintu surga, walaupun dia mengucapkannya lebih dari sejuta banyaknya. Karena itu perhatikanlah ! Wallahu a’lamu bish showwab !.


Dinukil dari bulletin Dakwah Al-Bayyinah, edisi 07/02/20, diolah dan disusun kembali oleh Abu Abdirrahman.
(BULETIN DAKWAH AT-TASHFIYYAH, Surabaya Edisi
(darus salaf chm)
READ MORE - Kunci Surga

30 Januari 2011

Jangan Nonton Harry Potter, Hipnotis,sulap!

Bismillahirrohnanirrohim
Siapa yang tidak kenal dengan Harry Potter, Dedi combuzer,dan sederet figure yang menyatakan secara samar atau terang-terangan “sihir tidak selalu buruk.tergantung penggunaannya”? Mereka adalah tokoh yang menyuarakan untuk ingkar kepada Alloh. Mereka adalah orang kafir,bukan islam!pantaskah kita yang mengaku muslim mengaguminya?!tentu akan berkata tegas ”tidak!” jika benar cinta pada Alloh dan rosul-Nya,namun jika berkata “tapi kaan….”maka dipertanyakan kecintaan pada-Nya. “Tidaklah kamu dapati kaum yang beriman pada Alloh dan hari qiamat saling berkasih saying terhadap yang menentang agama Alloh dan rosul-Nya walau mereka ayah-ayah mereka atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka atau keluarga mereka.mereka itulah orang-orang yang didalam hatinya telah dietapkan Alloh keimanan dan Alloh telah mnguatkan mereka dengan petolongan yang datang dari-Nya”(Al mujaadilah:22) Dengan kita mengagumi orang kafir, maka kita mencintai mereka! Dengan kita diam apa yang mereka lakukan, berarti kita setuju(ridho) atas perilaku mereka. Jika kita berdalih “Cuma mau tau aja kok,,kan fiktif,,kan ini dan itu”. Wahai saudaraku yang mengaku beragama islam,apa yang mereka perbuat adalah menentang Alloh.apakah kamu tidak marah sesembahanmu ditentang,dihina mereka??! Mereka menentang Alloh dengan perilaku mereka yang beribadah kepada selain Alloh! Mereka menghina Alloh karena mereka berkata “Tuhan bapa,tuhan anak, tuhan ibu”! mereka juga berkata “ Al masih anak Tuhan”!! ucapan mereka kafir bahkan gunung ,bumi dan langit hampir runtuh, pecah dan terbelah karena ucapan mungkar mereka itu! makhluq besar Alloh yang tidak punya akal tersebut yang tidak bermaksiat pada-Nya saja tidak terima karena penghinaan mereka! Lantas apakah manusia yang berakal dan mengaku mencintai-Nya malah berkata “itu Cuma rekayasa”!? Alloh berfirman dalam kalamulloh surat Al ikhlash “ Katakanlah: Dia adalah ALLOH, yang Maha Esa. Alloh tempat meminta segala sesuatu.tidak mempunyai anak dan tidak diperanakan. Dan tidak ada yang setara dengan Dia” Dalam surat Maryam: Hampir-hampir langit pecah, bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh karena ucapan tersebut. Karena menyeru Arrohman memiliki anak” Apakah kamu tetap diam saja menikmati hasil fiktif mereka yang nyata sesat dan menyesatkan?! Sihir bukanlah fiktif! Mempelajari sihir adalah kafir! “sesungguhnya mantra-mantra,jimat dan guna-guna adalah syirik”(Hr Abu Dawud,shohih oleh syaikh Muqbil) Sihir diajarkan syaithon,apakah kamu bangga terhadap orang ysng bisa hipnotis, ramal atau berbagai ilmu sihir lainnya dengan alasan “untuk kebaikan”?! kebaikan apa yang diperoleh jika menentang ucapan Alloh dan RosulNya!?! Tidaklah agama yang mereka anut diterima Alloh karena agama Yahudi dan nashroni telah berubah dan agama yang berlaku hingga hari qiamat adalah islam. “sesungguhnya agama disisi Alloh adalah Islam”(al ayat) Mereka tanamkan ajaran meraka kepada kaum muslimin supaya jauh dari agama Alloh tanpa sadar berbicara perkataan yang kafir seperti ”semua agama baik”! apakah sama orang yang sholat dengan yang menganggap zina biasa!!? Dengan banyaknya orang yang menonton acara perusak aqidah, mereka merasa bebas dan membuat kegiatan lain untuk merusak islam. Menonton sihir apapun namanya itu semakin banyak ditonton maka uang yang mereka peroleh dari sponsor/rating maka akan digunakan untuk memerangi islam baik dengan sarana atau prasarana. Mereka tahu jika memerangi islam dengan senjata, selemah-lemahnya iman akan membela agama islam. Sehingga mereka menyusupkan kebiadaban ajaran mereka dengan asas persamaan semua agama, menghalalkan yangharom untuk kebaikan,dsb. Jangankan Robb kita, jika orang tua kita dihina maka jika sayang tentu kita akan marah. Seharusnya terhadap yang kita ibadahi melebihi apapun. Tidak ada ilmu putih, ilmu hitam, atau ilmu lainnya! Penamaan tanpa dasar,dan dinamai apapun sihir tetap sesat. Yang mempelajari, mengamalkan, membolehkannya maka segeralah bertaubat. Kita bukan pemerintah maka pengingkaran kita terhadap kemungkaran bukan dengan tangan. Islam tidak datang dngan kekerasan, tapi dengan lembut serta bukan dengan kelemahan. Meski tdak membolehkan sihir, tidak mengamalkannya atau tidak mempelajarinya,ketika menonton acara berbau sihir akan timbul rasa kagum. Jika mengatakan tidak tapi hanya mau tahu sebagai hiburan, maka sungguh kasihan karena menghibur diri dengan apa yang dilarang Alloh, RosulNya serta menjadikan aqidah sebagai taruhan. Tak ada yang tahu dan tak ada yang menjamin setelah menonton apakah tetap islam atau tidak terbawa/terpengaruh/tidak membela. Menjadikan kekufuran,ilmu syaithon sebagai hiburan padahal islam membenci kekufuran, pelaku kekufuran serta bermusuhan dengan syaithon. Semoga bermanfaat dan menjadi amal sholih. Subhanaka Allohumma wa bihamdika asyhadu an La ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilayk.
READ MORE - Jangan Nonton Harry Potter, Hipnotis,sulap!

08 November 2010

Jenis-Jenis Tauhid – Pengenalan Tauhid Rububiyyah

Penulis : Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah an Nawawi

Tak kenal maka tak sayang, demikian bunyi pepatah. Banyak orang mengaku mengenal Allah, tapi mereka tidak cinta kepada Allah. Buktinya, mereka banyak melanggar perintah dan larangan Allah. Sebabnya, ternyata mereka tidak mengenal Allah dengan sebenarnya.

Sekilas, membahas persoalan bagaimana mengenal Allah bukan sesuatu yang asing. Bahkan mungkin ada yang mengatakan untuk apa hal yang demikian itu dibahas? Bukankah kita semua telah mengetahui dan mengenal pencipta kita? Bukankah kita telah mengakui itu semua?

Kalau mengenal Allah sebatas di masjid, di majelis dzikir, atau di majelis ilmu atau mengenal-Nya ketika tersandung batu, ketika mendengar kematian, atau ketika mendapatkan musibah dan mendapatkan kesenangan, barangkali akan terlontar pertanyaan demikian.

Yang dimaksud dalam pembahasan ini yaitu mengenal Allah yang akan membuahkan rasa takut kepada-Nya, tawakal, berharap, menggantungkan diri, dan ketundukan hanya kepada-Nya. Sehingga kita bisa mewujudkan segala bentuk ketaatan dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh-Nya. Yang akan menenteramkan hati ketika orang-orang mengalami gundah-gulana dalam hidup, mendapatkan rasa aman ketika orang-orang dirundung rasa takut dan akan berani menghadapi segala macam problema hidup.
Faktanya, banyak yang mengaku mengenal Allah tetapi mereka selalu bermaksiat kepada-Nya siang dan malam. Lalu apa manfaat kita mengenal Allah kalau keadaannya demikian? Dan apa artinya kita mengenal Allah sementara kita melanggar perintah dan larangan-Nya?

Maka dari itu mari kita menyimak pembahasan tentang masalah ini, agar kita mengerti hakikat mengenal Allah dan bisa memetik buahnya dalam wujud amal.

Mengenal Allah ada empat cara yaitu mengenal wujud Allah, mengenal Rububiyah Allah, mengenal Uluhiyah Allah, dan mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Allah.
Keempat cara ini telah disebutkan Allah di dalam Al Qur’an dan di dalam As Sunnah baik global maupun terperinci.
Ibnul Qoyyim dalam kitab Al Fawaid hal 29, mengatakan: “Allah mengajak hamba-Nya untuk mengenal diri-Nya di dalam Al Qur’an dengan dua cara yaitu pertama, melihat segala perbuatan Allah dan yang kedua, melihat dan merenungi serta menggali tanda-tanda kebesaran Allah seperti dalam firman-Nya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam terdapat (tanda-tanda kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memiliki akal.” (QS. Ali Imran: 190)
Juga dalam firman-Nya yang lain: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang, serta bahtera yang berjalan di lautan yang bermanfaat bagi manusia.” (QS. Al Baqarah: 164)
Mengenal Wujud Allah.
Yaitu beriman bahwa Allah itu ada. Dan adanya Allah telah diakui oleh fitrah, akal, panca indera manusia, dan ditetapkan pula oleh syari’at.
Ketika seseorang melihat makhluk ciptaan Allah yang berbeda-beda bentuk, warna, jenis dan sebagainya, akal akan menyimpulkan adanya semuanya itu tentu ada yang mengadakannya dan tidak mungkin ada dengan sendirinya. Dan panca indera kita mengakui adanya Allah di mana kita melihat ada orang yang berdoa, menyeru Allah dan meminta sesuatu, lalu Allah mengabulkannya. Adapun tentang pengakuan fitrah telah disebutkan oleh Allah di dalam Al Qur’an: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu menurunkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman ): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu’ Mereka menjawab: ‘(Betul Engkau Tuhan kami) kami mempersaksikannya (Kami lakukan yang demikian itu) agar kalian pada hari kiamat tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami bani Adam adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan-Mu) atau agar kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu sedangkan kami ini adalah anak-anak keturunan yang datang setelah mereka.’.” (QS. Al A’raf: 172-173)
Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa fitrah seseorang mengakui adanya Allah dan juga menunjukkan, bahwa manusia dengan fitrahnya mengenal Rabbnya. Adapun bukti syari’at, kita menyakini bahwa syari’at Allah yang dibawa para Rasul yang mengandung maslahat bagi seluruh makhluk, menunjukkan bahwa syari’at itu datang dari sisi Dzat yang Maha Bijaksana. (Lihat Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin hal 41-45)
Mengenal Rububiyah Allah
Rububiyah Allah adalah mengesakan Allah dalam tiga perkara yaitu penciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan pengaturan-Nya. (Lihat Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin hal 14)
Maknanya, menyakini bahwa Allah adalah Dzat yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rizki, mendatangkan segala mamfaat dan menolak segala mudharat. Dzat yang mengawasi, mengatur, penguasa, pemilik hukum dan selainnya dari segala sesuatu yang menunjukkan kekuasaan tunggal bagi Allah.
Dari sini, seorang mukmin harus meyakini bahwa tidak ada seorangpun yang menandingi Allah dalam hal ini. Allah mengatakan: “’Katakanlah!’ Dialah Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya sgala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya.” (QS. Al Ikhlash: 1-4)
Maka ketika seseorang meyakini bahwa selain Allah ada yang memiliki kemampuan untuk melakukan seperti di atas, berarti orang tersebut telah mendzalimi Allah dan menyekutukan-Nya dengan selain-Nya.
Dalam masalah rububiyah Allah sebagian orang kafir jahiliyah tidak mengingkarinya sedikitpun dan mereka meyakini bahwa yang mampu melakukan demikian hanyalah Allah semata. Mereka tidak menyakini bahwa apa yang selama ini mereka sembah dan agungkan mampu melakukan hal yang demikian itu. Lalu apa tujuan mereka menyembah Tuhan yang banyak itu? Apakah mereka tidak mengetahui jikalau ‘tuhan-tuhan’ mereka itu tidak bisa berbuat apa-apa? Dan apa yang mereka inginkan dari sesembahan itu?
Allah telah menceritakan di dalam Al Qur’an bahwa mereka memiliki dua tujuan. Pertama, mendekatkan diri mereka kepada Allah dengan sedekat-dekatnya sebagaimana firman Allah:
“Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai penolong (mereka mengatakan): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami di sisi Allah dengan sedekat-dekatnya’.” (Az Zumar: 3 )
Kedua, agar mereka memberikan syafa’at (pembelaan ) di sisi Allah. Allah berfirman:
“Dan mereka menyembah selain Allah dari apa-apa yang tidak bisa memberikan mudharat dan manfaat bagi mereka dan mereka berkata: ‘Mereka (sesembahan itu) adalah yang memberi syafa’at kami di sisi Allah’.” (QS. Yunus: 18, Lihat kitab Kasyfusy Syubuhat karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab)
Keyakinan sebagian orang kafir terhadap tauhid rububiyah Allah telah dijelaskan Allah dalam beberapa firman-Nya:
“Kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan mereka? Mereka akan menjawab Allah.” (QS. Az Zukhruf: 87)
“Dan kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan yang menundukkan matahari dan bulan? Mereka akan mengatakan Allah.” (QS. Al Ankabut: 61)
“Dan kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan bumi setelah matinya? Mereka akan menjawab Allah.” (QS. Al Ankabut: 63)
Demikianlah Allah menjelaskan tentang keyakinan mereka terhadap tauhid Rububiyah Allah. Keyakinan mereka yang demikian itu tidak menyebabkan mereka masuk ke dalam Islam dan menyebabkan halalnya darah dan harta mereka sehingga Rasulullah mengumumkan peperangan melawan mereka.
Makanya, jika kita melihat kenyataan yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin, kita sadari betapa besar kerusakan akidah yang melanda saudara-saudara kita. Banyak yang masih menyakini bahwa selain Allah, ada yang mampu menolak mudharat dan mendatangkan mamfa’at, meluluskan dalam ujian, memberikan keberhasilan dalam usaha, dan menyembuhkan penyakit. Sehingga, mereka harus berbondong-bondong meminta-minta di kuburan orang-orang shalih, atau kuburan para wali, atau di tempat-tempat keramat.
Mereka harus pula mendatangi para dukun, tukang ramal, dan tukang tenung atau dengan istilah sekarang paranormal. Semua perbuatan dan keyakinan ini, merupakan keyakinan yang rusak dan bentuk kesyirikan kepada Allah.
Ringkasnya, tidak ada yang bisa memberi rizki, menyembuhkan segala macam penyakit, menolak segala macam marabahaya, memberikan segala macam manfaat, membahagiakan, menyengsarakan, menjadikan seseorang miskin dan kaya, yang menghidupkan, yang mematikan, yang meluluskan seseorang dari segala macam ujian, yang menaikkan dan menurunkan pangkat dan jabatan seseorang, kecuali Allah. Semuanya ini menuntut kita agar hanya meminta kepada Allah semata dan tidak kepada selain-Nya.
Mengenal Uluhiyah Allah
Uluhiyah Allah adalah mengesakan segala bentuk peribadatan bagi Allah, seperti berdo’a, meminta, tawakal, takut, berharap, menyembelih, bernadzar, cinta, dan selainnya dari jenis-jenis ibadah yang telah diajarkan Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Memperuntukkan satu jenis ibadah kepada selain Allah termasuk perbuatan dzalim yang besar di sisi-Nya yang sering diistilahkan dengan syirik kepada Allah.
Allah berfirman di dalam Al Qur’an:
“Hanya kepada-Mu ya Allah kami menyembah dan hanya kepada-Mu ya Allah kami meminta.” (QS. Al Fatihah: 5)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah membimbing Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu dengan sabda beliau:
“Dan apabila kamu minta maka mintalah kepada Allah dan apabila kamu minta tolong maka minta tolonglah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)
Allah berfirman:
“Dan sembahlah Allah dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” (QS. An Nisa: 36)
Allah berfirman:
“Hai sekalian manusia sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al Baqarah: 21)
Dengan ayat-ayat dan hadits di atas, Allah dan Rasul-Nya telah jelas mengingatkan tentang tidak bolehnya seseorang untuk memberikan peribadatan sedikitpun kepada selain Allah karena semuanya itu hanyalah milik Allah semata.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Allah berfirman kepada ahli neraka yang paling ringan adzabnya. ‘Kalau seandainya kamu memiliki dunia dan apa yang ada di dalamnya dan sepertinya lagi, apakah kamu akan menebus dirimu? Dia menjawab ya. Allah berfirman: ‘Sungguh Aku telah menginginkan darimu lebih rendah dari ini dan ketika kamu berada di tulang rusuknya Adam tetapi kamu enggan kecuali terus menyekutukan-Ku.” ( HR. Muslim dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu )
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Allah berfirman dalam hadits qudsi: “Saya tidak butuh kepada sekutu-sekutu, maka barang siapa yang melakukan satu amalan dan dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku maka Aku akan membiarkannya dan sekutunya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu )
Contoh konkrit penyimpangan uluhiyah Allah di antaranya ketika seseorang mengalami musibah di mana ia berharap bisa terlepas dari musibah tersebut. Lalu orang tersebut datang ke makam seorang wali, atau kepada seorang dukun, atau ke tempat keramat atau ke tempat lainnya. Ia meminta di tempat itu agar penghuni tempat tersebut atau sang dukun, bisa melepaskannya dari musibah yang menimpanya. Ia begitu berharap dan takut jika tidak terpenuhi keinginannya. Ia pun mempersembahkan sesembelihan bahkan bernadzar, berjanji akan beri’tikaf di tempat tersebut jika terlepas dari musibah seperti keluar dari lilitan hutang.
Ibnul Qoyyim mengatakan: “Kesyirikan adalah penghancur tauhid rububiyah dan pelecehan terhadap tauhid uluhiyyah, dan berburuk sangka terhadap Allah.”
Mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Allah
Maksudnya, kita beriman bahwa Allah memiliki nama-nama yang Dia telah menamakan diri-Nya dan yang telah dinamakan oleh Rasul-Nya. Dan beriman bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang tinggi yang telah Dia sifati diri-Nya dan yang telah disifati oleh Rasul-Nya. Allah memiliki nama-nama yang mulia dan sifat yang tinggi berdasarkan firman Allah:
“Dan Allah memiliki nama-nama yang baik.” (Qs. Al A’raf: 186)
“Dan Allah memiliki permisalan yang tinggi.” (QS. An Nahl: 60)
Dalam hal ini, kita harus beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah sesuai dengan apa yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya dan tidak menyelewengkannya sedikitpun. Imam Syafi’i meletakkan kaidah dasar ketika berbicara tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagai berikut: “Aku beriman kepada Allah dan apa-apa yang datang dari Allah dan sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah. Aku beriman kepada Rasulullah dan apa-apa yang datang dari Rasulullah sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Rasulullah” (Lihat Kitab Syarah Lum’atul I’tiqad Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin hal 36)
Ketika berbicara tentang sifat-sifat dan nama-nama Allah yang menyimpang dari yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka kita telah berbicara tentang Allah tampa dasar ilmu. Tentu yang demikian itu diharamkan dan dibenci dalam agama. Allah berfirman:
“Katakanlah: ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tampa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah (keterangan) untuk itu dan (mengharamkan) kalian berbicara tentang Allah tampa dasar ilmu.” (QS. Al A’raf: 33)
“Dan janganlah kamu mengatakan apa yang kamu tidak memiliki ilmu padanya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan diminta pertanggungan jawaban.” (QS. Al Isra: 36)
Wallahu ‘alam
(Dikutip dari tulisan Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah an Nawawi, judul asli Mengenal Allah)
READ MORE - Jenis-Jenis Tauhid – Pengenalan Tauhid Rububiyyah

01 Oktober 2010

Termasuk Syirik Memakai Cincin dan Benang dan Semisal Keduanya untuk Menghilangkan dan Menolak Bala


Seringkali kita saksikan orang-orang yang memakai cincin atau benang yang diikatkan pada badannya atau semisal keduanya serta meyakini hal itu dapat mencegah datangnya mara bahaya, bahkan kalau itu dilepas ia merasa was-was dan tidak aman.

Padahal kita ketahui bahwa menghilangkan madharat dan mendatangkan manfaat adalah kekhususan bagi Allah, sebagaimana firman-Nya :

“Katakanlah: ‘Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan Rahmat-Nya? Katakanlah: Cukuplah Allah bagiku. Kepada-Nyalah bertawakal orang-orang yang berserah diri’ “. (Az-Zumar:38)

Pada ayat ini Allah memerintahkan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wasallam agar mengingkari peribadahan kaum musyrikin kepada berhala-berhala lemah itu yang tidak mampu menghilangkan kemudharatan yang telah datang pada seseorang dan tidak pula dapat menahan kenikmatan yang telah turun pada seseorang. Kemudian Allah memerintahkan nabi-Nya agar menyerahkan urusannya kepada Allah, Dia yang akan mencukupinya dengan mendatangkan manfaat dan menolak mudharat, dan cukup pula bagi Allah bagi orang-orang yang bersabar diri pada Allah. Dalam ayat ini pula mengandung kewajiban bertawakal pada Allah, dan tidak menafikan adanya pencarian sebab-sebab yang disyariatkan. Setiap hamba wajib mengenal tiga perkara dalam hukum-hukum asbab, yaitu:

1. Hanya menjadikan sesuatu yang telah pasti secara syariat & kemampuan.

2. Tidak bersandar pada sebab tetapi pada yang menurunkan sebab dan menguasai disertai usaha melaksanakan sebab yang disyariatkan dan berambisi mengambil manfaat dari sebab itu.

3. Mengetahui bahwa betapapun besar dan kuat sebab itu tetap bargantung pada ketentuan dan takdir.

Adapun memakai cincin atau benang dan semisalnya dengan tujuan menghilangkan bala atau mencegahnya termasuk syirik akbar karena ia meyakini itulah yang dapat menolak dan menghilangkan bala. Sedangkan bila ia meyakini Allah saja yang dapat menolak dan menghilangkan bala tapi ia meyakini itu sebagai sebab tertolak-nya bala maka ia telah menjadikan sesuatu yang tidak tetap menurut syariat dan secara takdir sebagai sebab, ini berarti haram, berdusta atas nama syariat dan takdir serta termasuk dalam syirik asghar yang merupakan dosa besar yang paling besar. Secara syariat perbuatan itu bukan sebab yang disyariatkan melalui lisan nabi-Nya yang dapat menyampaikan pada keridhaan dan pahala Allah . Secara qadriah pun bukan termasuk sebab yang telah diketahui dan teruji manfaatnya sebagaimana obat-obatan yang dibolehkan. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Hudzaifah bahwa ia melihat laki-laki ditangannya ada benang untuk mengobati sakit panas maka ia putuskan benang itu seraya membaca firman Allah Taala :

“Dan sebagian besar dari mereka itu beriman pada Allah, hanya saja merekapun berbuat syirik kepada-Nya “. (Yusuf:106)

Ayat ini menerangkan bahwa kebanyakan manusia beriman pada Allah tapi mencampurkan keimanannya dengan kesyirikan. Wallahualam (darus salaf)
READ MORE - Termasuk Syirik Memakai Cincin dan Benang dan Semisal Keduanya untuk Menghilangkan dan Menolak Bala

18 September 2010

Da’wah Tauhid Dakwah yang Haq

Penulis: Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Ramadhany

Atau ada juga kelompok-kelompok dakwah yang menghabiskan waktunya untuk menyerang atau mengkritik pemerintah dengan tujuan memperbaiki masyarakat atau dengan cara politik untuk menghancurkan pemerintah dengan tanpa memperdulikan kerusakan aqidah para pengikutnya.

Mengikhlaskan agama hanya untuk Allah ( Tauhid ) merupakan pokok ajaran agama islam, yang mana karena hal tersebut inilah Allah menurunkan kitab-kitab-Nya serta mengutus para Rasul, dan seluruh para Nabi menyerukan ( menda’wahkan ) hal ini serta berjihad dengannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan dalam firman-Nya :
“Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ( memurnikan ) agama ini.”
(QS. Az-Zumar : 2).

Dalam firman-Nya yang lain :
“Dan tidaklah mereka diperintah kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ( memurnikan ) agama ini bagi-Nya.” (QS. Al-Bayyinah : 5).

Dan kedudukan Tauhid itu ibarat pondasi pada sebuah bangunan.
Al Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata : “Barang siapa yang ingin meninggikan bangunan, maka wajib atasnya untuk menguatkan dan memantapkan pondasinya serta bersungguh- sungguh untuk menfokuskan perhatian kepadanya, karena tingginya bangunan tersebut tergantung pada kuat serta mantapnya pondasi itu. Maka amalan dan tingkatan-tingkatannya adalah ( ibarat ) bangunan dan pondasinya adalah keimanan. Maka orang yang bijaksana itu cita- citanya adalah membetulkan dan memantapkan pondasi, adapun orang yang bodoh (adalah orang yang) mendirikan bangunan tanpa adanya pondasi, sehingga tidak lama bangunannya akan runtuh.

Allah Ta’ala berfirman :
“Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhoan-Nya itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama kedalam neraka jahanam ? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dholim,”
(QS. At-Taubah : 109) .
(lihat keterangan ini dalam kitab Al-Fawaid, hal 204).

Aku (Syaikh Abdul Malik Ramadhany) katakan : “Ayat ini turun tentang orang-orang munafik yng membangun masjid untuk ditegakkan sholat di dalamnya. Akan tetapi ketika mereka mengerjakan amalan yang agung serta mulia ini, hati mereka kosong dari keikhlasan dan tidak bermanfat bagi mereka sedikitpun, bahkan mereka jatuh kedalam neraka jahanam sebagaimana tersebut dalam ayat ini.” (lihat kitab Sittu Duror, hal 13-14)”.

Al Imam Ibnul Qoyyim menyatakan :
“Pondasi itu ada dua hal :
Pertama : Benarnya pengenalan kepada Allah dan perintah-Nya serta nama-nama dan sifat-sifat- Nya.
Kedua : Memurnikan ketundukan kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak kepada yang lainnya. Maka ini adalah sekuat-kuatnya pondasi yang di gunakan seorang hamba untuk bangunannya.”

Ketika Tauhid itu ibarat pondasi bagi sebuah bangunan dan akar dari sebuah pohon, maka perintah pertama yang kita jumpai ketika kita membuka Al-Qur’an dari awal adalah firman Allah Ta’ala :
“Wahai manusia beribadahlah kepada Rabb kalian yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al Baqarah : 21).

Kemudian setelah ayat ini langsung diikuti dengan larangan dari apa-apa yang menentang Tauhid, yakni syirik. Allah berfirman :
“Maka janganlah kalian jadikan tandingan-tandingan (sekutu) bagi Allah sedangkan kalian mengetahuinya “ (QS. Al Baqarah : 22).

Di sini terdapat faedah yang besar, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak hanya memerintahkan kepada kita untuk beribadah kepada-Nya, akan tetapi Allah melarang kita dari apa-apa yang membatalkan hal tersebut, yaitu beribadah kepada selain-Nya (syirik). Maka lihatlah di dalam Al Qur’an, kita akan menjumpai hukum yang berturut-turut, diantaranya firman Allah :
“Sembahlah Allah dan janganlah kalian menyekutukan dengan selain-Nya,”
(QS. An-Nisa : 36).

Dalam firman-Nya yang lain :
“Dan sungguh kami tidak mengutus seorang Rasul pada setiap ummat (untuk menyeru) “sembahlah Allah dan jauhilah taghut.”
(QS. An-Nahl : 36).

Syaikh Mubarok Al-Mily berkata : “Tidak cukup di dalam dua kalimat syahadat dengan semata bertauhid saja, sampai dia meniadakan berbagai macam sesembahan yang lain dan membatasi syari’at ini hanya pada seseorang yang di utus untuk menyampaikan agama ini (yaitu Rasulullah shalallahu wa sallam).

Syirik adalah perbuatan haram nomor satu yang di larang oleh Allah Ta’ala sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya :
“Katakanlah (wahai Muhammad), “marilah kalian, akan aku bacakan apa saja yang di haramkan oleh Rabb kalian atas kalian, yaitu janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun…”
(QS. Al-An’am : 151).

Dan wasiat petama yang di wasiatkan oleh Luqman Al-Hakkim kepada putranya adalah :
“Wahai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah (syirik) itu adalah kedholiman yang sangat besar. “ (QS. Luqman : 13).

Dalam Tauhid itu adalah wasiat para Nabi ketika akan menghadapi kematian.
Allah Ta’ala berfirman :
“Adakah kami hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) kematian, ketika itu ia berkata kepada anaknnya “Apakah yang kalian sembah sepeninggalku ? “Mereka menjawab : “Kami akan menyembah tuhanmu dan tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa, dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”
(QS. Al-Baqarah : 133)

Oleh karena itu, para da’i yang mengajak untuk bertauhid adalah seutama-utama da’i, karena dakwah tauhid adalah dakwah yang menyeru kepada derajat iman yang paling tinggi. Sebagaimana di nyatakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam :
“Iman itu ada tujuh puluh atau enam puluh lebih cabang yang paling utama adalah kalimat Laa ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang keimanan.” (HR. Muslim).

Imam An-Nawawi rahimahullah menyatakan :
“Rasulullah telah mengingatkan bahwa cabang keimanan yang paling utama adalah Tauhid yang wajib atas setiap orang (untuk mengetahui ) dan tidak sah sesuatu pun dari cabang-cabang tersebut kecuali setelah benarnya Tauhid,” (lihat kitab Syarah Shohih Muslim jilid 1, hal 20).

Aku (Syaikh Abdul Malik Ramadhany) katakan :
“Akan tetapi cabang-cabang keimanan ini tidak akan tumbuh dalam hati seseorang dan tidak akan berbuah pada anggota badannya kecuali sesuai dengan (seberapa jauh makna) kalimat thoyyibah ini di laksanakan oleh seorang hamba.”
Hal ini di karenakan bagusnya hati pada jasad. Dalam sebuah hadist dari An-Nu’man bin Basyir radhiayallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sesungguhnya di dalam tubuh seseorang itu terdapat segumpal daging, Jika ia baik, maka akan baiklah seluruh anggota tubuh. Jika ia rusak, maka akan rusaklah seluruh anggota tubuh. Ketahuilah, dia itu adalah hati.” (HR. Bukhori-Muslim).

Di dalam hadits ini terdapat dalil yang jelas bahwa memperbaiki Tauhid adalah pokok segala kebaikan dan perkara yang paling agung. Oleh karena itu seluruh dakwah yang menyerukan kepada kebaikan yang tidak memusatkan pada urusan Tauhid, akan mengalami penyelewengan (penyimpangan) sesuai dengan jauhnya dia dari pokok yang mulia ini, yaitu Tauhid.

Seperti mereka (kelompok-kelompok dakwah) yang menghabiskan waktunya untuk memperbaiki hubungan sesama manusia tetapi hubungan dengan Allah (yaitu perkara Aqidahnya) tidak sesuai dengan tuntunan salafus shalih.

Atau ada juga kelompok-kelompok dakwah yang menghabiskan waktunya untuk menyerang atau mengkritik pemerintah dengan tujuan memperbaiki masyarakat atau dengan cara politik untuk menghancurkan pemerintah dengan tanpa memperdulikan kerusakan aqidah para pengikutnya.

Atau ada juga mereka (kelompok-kelompok dakwah) yang dalam dakwahnya tidak memperhatikan dan tidak memulai dakwahnya pada Tauhid dengan anggapan bahwa Tauhid itu akan memecah belah umat, atau umat akan lari darinya, atau juga dengan anggapan bahwa masyarakat sudah paham semua tentang Tauhid sehingga mereka dengungkan (dakwahkan) setiap saat adalah bagaimana membentuk daulah Islam (Negara Islam).

Apakah mereka tidak mendengar do’a Nabi Ibrahim alaihis salam yang mana beliau kuatir terjatuh dalam kesyirikan, beliau berdo’a :
“Wahai Tuhanku, jadikanlah negeri kami ini negeri yang aman, serta jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan kepada patung-patung (berhala). Wahai Tuhanku, sesungguhnya mereka (berhala-berhala itu) telah menyesatkan mayoritas manusia. “ (QS. Ibrahim : 35-36).

Oleh karena itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menekankan kepada para da’i agar mementingkan masalah tauhid serta memulai dakwahnya dengan tauhid itu. Sebagaimana di riwayatkan dalam sebuah hadist dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Mu’adz bin Jabal ketika dia di utus ka Yaman :
“Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab. Maka jika kamu datang kepada mereka, jadikanlah pertama kali yang kamu dakwahkan kepada mereka adalah “beribadahlah kalian kepada Allah (Dalam riwayat yang lain : “Agar kalian mentauhidkan Allah). “
(HR. Bukhori- Muslim).

Oleh karena itu awalilah dakwah yang kita lakukan ini dengan dakwah tauhid sebagaimana yang di perintahkan oleh Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam.Wallahu A’lamu bishshowwab.

Maraji’ : Kitab Sittu Durar min Ushuli Ahlil Atsar, karya Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Ramadhany, di terjemahkan oleh Ustadz Muhammad Irfan.

Sumber : BULETIN DAKWAH AT-TASHFIYYAH, Surabaya EDISI : 02 / SYAWAL / 1424 (diambil dari darus salaf chm)
READ MORE - Da’wah Tauhid Dakwah yang Haq

01 Agustus 2010

Sikap Berlebihan Terhadap Orang-orang Shalih

Penulis: Buletin Islam Al Ilmu,Jember Edisi 12/XII/1424

Meyakini bahwa wali atau orang shalih (kyai, habaib dan semisalnya) mampu mendatangkan manfaat dan menolak mudhorot atau mampu menjawab do’anya orang yang berdo’a kepada mereka ketika masih hidup ataupun sudah mati. Hal ini merupakan kesyirikan yang nyata dan jelas-jelas menentang dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan para nabi dan rasul.

Salah satu prinsip Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah memberikan sikap loyalitas (cinta) kepada siapa saja yang dicintai oleh Allah Ta’ala. Dan orang-orang shalih termasuk suatu tho’ifah (golongan) terbaik dari umat Islam, sehingga mereka mendapatkan kecintaan, pujian dan nikmat dari Allah Ta’ala karena telah berhasil meniti shirathal mustaqim (jalan yang lurus).

Allah Ta’ala berfirman :

فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

(artinya): “Maka mereka itu akan bersama-sama orang-orang yang Allah anugerahi nikmat atas mereka, dari kalangan para Nabi, shiddiqin (orang-orang yang benar keimanannya), syuhada’, dan orang-orang shalih, dan mereka itu adalah sebaik-baik teman”. (QS. An Nisa’ : 69)

Maka mereka termasuk orang-orang yang berhak mendapatkan wala’ (loyalitas) dari kaum muslimin. Namun yang wajib diketahui, bahwa sikap wala’ yang akan mendapatkan ridha Allah Ta’ala dan balasan di sisi-Nya, bukan wala’ (kecintaan) yang dilandasi dengan hawa nafsu, akan tetapi suatu kecintaan yang dilandasi Al Qur’an dan As Sunnah.

Umat manusia dalam menilai keberadaan orang-orang shalih terbagi menjadi tiga golongan.

Pertama : Golongan yang meremehkan atau merendahkan kedudukan yang Allah berikan kepada mereka (tafrith).

Kedua : Golongan yang memiliki sikap pengkultusan dan pengagungan melebihi batas dari apa yang Allah Ta’ala karuniakan kepada mereka (ifrath).

Ketiga : Golongan yang adil dan tidak berbuat tafrith (meremehkan) maupun ifrath terhadap mereka.

Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai sikap adil didalam menyikapi orang-orang shalih, yaitu tidak menghinakan dan merendahkan kedudukan orang-orang shalih, bahkan memuliakan dan memuji mereka dengan tidak melebihi ketentuan syariat. Sebagaimana Allah Ta’ala menjelaskan dalam banyak ayat-Nya, diantaranya :

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

(artinya): “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil”. (Al Hujuraat: 9)

Dan juga firman-Nya :

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

(artinya): “Dan demikianlah Kami jadikan kalian menjadi umat yang adil”. (Al Baqarah: 143)
Demikian pula Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wassalam melarang perbuatan ghuluw (ekstrim). Allah Ta’ala berfirman :

يَاأَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلاَ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلاَّ الْحَقَّ

(artinya): “Wahai Ahlul Kitab janganlah kalian berbuat ghuluw (ekstrim) dalam beragama, dan jangan pula kalian mengatakan tentang Allah kecuali di atas kebenaran”. (An Nisa’: 171)

Ghuluw adalah sikap melampaui batas dalam memuji dan mencela (sesuatu/seseorang).

Asy Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh berkata: “Walaupun khitob (sasaran) mengarah kepada Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashara), namun khitob (sasaran) ini bersifat umum mencakup seluruh umat, sebagai tahdzir (peringatan) dari sikap Nashara terhadap Isa Ibnu Maryam (mereka meyakini Isa anak Allah atau tiga dari yang satu -trinitas- red) dan sikap Yahudi terhadap Uzair (meyakini Uzair anak Allah atau menganggap Isa adalah anak pezina – red).(Fathul Majid jilid 1, hal. 21)

Mengingat siapa saja yang diantara umat ini yang menyerupai Yahudi dan Nashara, dan berbuat ghuluw di dalam beragama dengan cara ifrath (melampaui batas) atau pun tafrith (meremehkannya), maka sungguh ia telah menyerupai mereka. Hal ini sesuai yang diungkapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Fathul Majid jilid 1, hal. 272)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam berkata :

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari mereka”.

Oleh karena itu beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam mewanti-wanti kepada umatnya, supaya jangan berbuat ghuluw kepada diri beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam sendiri. Seperti halnya Yahudi dan Nashara telah terjatuh dalam perbuatan ghuluw. Beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam berkata :

لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ ، فَقُوْلُوا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ

“Janganlah kalian berbuat ghuluw kepadaku sebagaimana Nashara telah berbuat ghuluw kepada Ibnu Maryam. Aku ini hanyalah seorang hamba, maka katakanlah Abdullah dan Rasul-Nya”. (Muttafaqun ‘Alaihi)

إِ يَّاكُمْ وَ الْغُلُو، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الغُلُو

“Berhati-hatilah kalian dari bersikap ghuluw, karena sesungguhya celakanya orang-orang sebelum kalian adalah karena berbuat ghuluw.” (HR. Al Bukhari)

هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُوْنَ ( ثَلاَثًا )

“Binasalah orang-orang yang melampaui batas (ghuluw), (beliau berkata sampai tiga kali)”. (HR. Muslim)

Awal Mula Terjadinya Kesyirikan

Awal mula munculnya kesyirikan di muka bumi adalah sikap ghuluw (ekstrim) kepada orang- orang shalih, sebagaimana yang dipaparkan oleh Abdullah bin Abbas Radiyallahu ‘anhu dalam riwayat Al Imam Al Bukhari, ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala (artinya):

“Dan mereka berkata : “Janganlah kalian meninggalkan sesembahan-sesembahan kalian, dan jangan pula meninggalkan wad, suwa’, yaghuts, ya’uq,dan nasr”. Beliau Radiyallahu ‘anhu berkata : “Ini adalah nama-nama orang shalih dari kaum Nabi Nuh, tatkala mereka meninggal, syaithan membisikkan kepada kaumnya: “Buatlah patung-patung mereka di majlis-majlis mereka dahulu (seperti monomen-monomen- red), dan namailah patung-patung tersebut dengan nama- nama mereka. Kemudian kaum tersebut melakukannya dan belum sampai pada penyembahannya, hingga akhirnya kaum itu meninggal (digantikan oleh kaum berikutnya – red) dan dihapuskanlah ilmu, maka patung-patung tersebut pun disembah”.

Berkata Ibnul Qoyyim: “Lebih dari seorang dari ulama’ Salaf berkata: “Tatkala orang-orang shalih tersebut telah meninggal, manusia pun beri’tikaf dan membikin gambar atau patung di samping kuburan mereka, kemudian setelah berganti dari generasi ke genarasi berikutnya, mereka pun menyembahnya”. (Lihat Fathul Majid: 264)

Bagaimana Bentuk-Bentuk Ghuluw Dan Akibatnya ?

Pada pembahasan kali ini hanya mengacu kepada akibat dari sikap ghuluw (ekstrim) yang menyebabkan pelakunya terjatuh ke dalam kesyirikan atau perkara-perkara sebagai wasilah (perantara) menuju kesyirikan, karena jenis-jenis ghuluw terhadap mereka sangat banyak sekali. Bentuk-bentuk ghuluw yang terjadi dan bisa dicermati sendiri oleh kaum muslimin, diantaranya:

1. Menganggap bahwa beribadah seperti sholat atau berdo’a dihadapan gambar, patung, kuburan orang shalih (kyai, haba’ib habib-habib, ajengan atau yang lainnya) lebih mendatangkan rasa khusu’ dan khudhu’ kepada Allah Ta’ala. Ini merupakan bentuk ibadah yang bid’ah, munkar dan tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabatnya radiyallahu ‘anhum. Sebatas membuat gambar atau patung dari benda yang bernyawa saja, dia telah melanggar peringatan keras dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam, beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam berkata :

إِنَّ أََشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ المُصَوِّرُوْنَ

“Sesungguhnya adzab yang paling pedih pada hari kiamat nanti adalah para tukang gambar”. (Muttafaqun ‘Alaihi)

Juga menentang perkataan Rasulllah Shallallahu ‘alaihi wassalam:

وَ إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُوْنَ قَبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا القَبُوْرَ مَسَاجِدَ، فَإِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

“Dan sesungguhnya orang-orang sebelum kalian, mereka dahulu menjadikan kuburan para Nabi sebagai masjid-masjid, maka ketahuilah janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid- masjid, sesungguhnya aku melarang dari perbuatan seperti itu”. (HR. Muslim)

Dan setiap tempat yang digunakan untuk sholat, maka dinamakan sebagai masjid, walaupun tidak ada bangunannya, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam berkata:

جُعِلَتْ لي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَ طَهُوْرًا

“Telah dijadikan bumi untukku sebagai masjid dan untuk bersuci”. (Muttafaqun ‘Alaihi)

2. Berkeyakinan bahwa berdo’a kepada Allah Ta’ala sambil bertawasul dengan orang shalih yang sudah mati (kyai, habaib dan semisalnya) lebih diterima oleh Allah Ta’ala. Hal ini juga merupakan perkara yang bathil dan haram, karena tidak pernah dilakukan oleh para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam, bahkan Umar Radiyallahu ‘anhu ketika di jamannya ditimpa paceklik, beliau tidak bertawasul kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam karena beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam sudah wafat, namun Umar Radiyallahu ‘anhu meminta kepada paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam untuk berdo’a kepada Allah Ta’ala.(Fatawa Arkanul Islam lisy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin hal. 182)

Padahal Allah Ta’ala berfirman :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي

(artinya): “Dan jika hamba-Ku bertanya kepadamu tentang-Ku, maka sesungguhnya Aku amat dekat dan Aku mengabulkan orang yang berdo’a jika dia berdo’a kepada-Aku”. (QS. Al Baqarah: 186)

Bahkan Allah Ta’ala mengolok-olok orang-orang yang lalai lagi bodoh ketika menjadikan sebagian hamba-Nya sebagai wasilah, padahal orang-orang shalih tersebut butuh pada wasilah berupa ketaatan (amalan shalih) kepada-Nya dan tidak ada cara lain yang bisa mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala :

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ

(artinya): “Mereka orang-orang yang diseru juga mencari wasilah menuju kepada Robb-Nya! siapa yang lebih dekat (kepada Allah- red) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab- Nya”. (QS. Al Isra’: 58)

3. Meyakini bahwa para wali atau orang shalih mengetahui ilmu ghaib.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam adalah imam para rasul, tidaklah mengetahui perkara yang ghaib atau perkara yang akan terjadi apalagi mereka yang bukan termasuk dari kalangan para Nabi. Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ لاَ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ

(artinya): “Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfatan pada diriku dan tidak pula mampu menolak kemudhorotan kecuali yang di kehendaki oleh Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku akan membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudhoratan”. (Al A’raf: 188)

4. Meyakini bahwa wali atau orang shalih (kyai, habaib dan semisalnya) mampu mendatangkan manfaat dan menolak mudhorot atau mampu menjawab do’anya orang yang berdo’a kepada mereka ketika masih hidup ataupun sudah mati. Hal ini merupakan kesyirikan yang nyata dan jelas-jelas menentang dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan para nabi dan rasul. Allah Ta’ala berfirman :

وَلاَ تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لاَ يَنْفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

(artinya): “Maka janganlah kamu berdo’a (beribadah) selain dari Allah yang tidak bisa mendatangkan manfaat dan pula memberi mudhorot padamu, kalau sekiranya kamu kerjakan sungguh kamu termasuk orang-orang yang dholim”. (QS. Yunus: 106)

Dan juga Allah Ta’ala berfirman :

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لاَ يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ

(artinya): “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sesembahan- sesembahan selain Allah, yang tiada dapat memperkenakan (do’anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do’a mereka”?. (Al Ahqaf:5)

Ini hanya sebagian kecil dan masih banyak lagi dari perbuatan dhahir (mu’amalah) ataupun i’tiqodiyyah (amalan batin) yang melampaui batas (ghuluw) terhadap orang-orang shalih.



Tanya-Jawab

Tanya : Bagaimana rihlah atau safar hanya dalam rangka ziarah ke kubur Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam , para wali dan sunan?

Jawab : Hal itu tidak boleh, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam berkata :

لاَ تَشُدُّ الرِّحَالَ إِلاَّ إلى ثَلاَثَة مَسَاجِدَ، المَسْجِدِ الْحَرَامِ وَ مَسْجِدِي هذا وَ الْمَسْجِدِ الأَقْصَى

“Janganlah kalian berkeinginan untuk safar kecuali ke tiga masjid, Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsho”. (Muttafaqun ‘Alaihi)



Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam tidaklah melarang kecuali ada hikmahnya, yaitu sebagai bentuk saddudz dzari’ah (tindakan preventif) supaya tidak terjatuh dalam perbuatan ghuluw dan ini menunjukkan kasih sayang beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam kepada umat Islam. Dan sebaliknya jika kaum muslimin melanggar anjuran beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam, maka pasti akan terjatuh ke dalam fitnah. Maka apabila para pembaca mencermati apa yang dilakukan para peziarah ke kuburan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam atau wali-wali, bukan hanya berdo’a dan istighotsah saja bahkan sampai ruku’ dan sujud semata-mata untuk ahli kubur dalam keadaan khusyu’ dan khudhu’ (penghinaan diri) yang tidak bisa dihadirkan kondisi seperti itu ketika beribadah di masjid-masjid Allah Ta’ala . Wallahul Musta’an.



(Dikutip dari Buletin Islam, Jember Al Ilmu Edisi 12/XII/1424. Dikirim via email oleh Al Akh Hardi Ibn Harun)
(darus salaf)
READ MORE - Sikap Berlebihan Terhadap Orang-orang Shalih